• SMKN 1 BUMIJAWA
  • Menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan

Bahasa Jawa dan Tatakrama

Oleh: Novi Wulandari, S.Pd

Manusia adalah makhluk sosial. Dimana manusia satu pasti membutuhkan manusia lainnya. Untuk mengutarakan kebutuhan tersebut manusia membutuhkan yang dinamakan bahasa. Menurut Kridalaksana dan Djoko Kentjono (dalam Chaer, 2014:32) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi antar manusia.

Mengutip dalam buku karya E.K.M Masinambo (2002) yang berjudul Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, terdapat total 652 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan data yang dipaparkan oleh Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan Kebudayaan.

Setiap kebudayaan yang ada di Indonesia pastinya memiliki bahasa daerah masing-masing yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Seperti yang ada di lingkungan kita saat ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahasa daerah dapat diartikan sebagai bahasa yang digunakan sehari-hari oleh sebuah suku maupun budaya. Kita juga dapat melihat sebuah bahasa daerah sebagai identitas dari sebuah daerah yang sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang budaya tersebut.

Bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan budaya Nasional yang wajib untuk kita lestarikan, pasalnya kita semua sepaham bahwa perkembangan zaman dapat menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya pergeseran sebuah budaya, termasuk terlupakannya bahasa daerah.

Sebagai orang yang lahir  dan dibesarkan di Jawa sudah selayaknya kita menggunakan bahasa Jawa dalam rangka melestarikan budaya daerah. Perlu anda ketahui bahwa bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang mendunia. Bahasa Jawa adalah bahasa Austronesia yang utamanya dituturkan oleh penduduk bersuku Jawa di wilayah bagian tengah dan timur pulau Jawa. Bahasa Jawa juga dituturkan oleh diaspora Jawa di wilayah lain di Indonesia, seperti di Sumatra dan Kalimantan; serta di luar Indonesia seperti di Suriname, Belanda, dan Malaysia.

Bahasa Jawa adalah bahasa yang lebih memiliki rasa. Untuk itulah Bahasa Jawa tidak dapat dipisahkan dari tata krama. Tatakrama adalah suatu sikap sopan santun seseorang yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tata krama ini menjadi hal yang menonjol di kehidupan bermasyarakat, karena sebagai seorang manusia kita juga harus memiliki etika yang baik ataupun sopan santun agar seseorang tidak mengecewakan kita.

Dalam pembahasan kali ini adalah tata krama suku Jawa. Dalam tata krama Jawa, ada etika dan sopan santun yang harus dipenuhi. Ini tidak terlepas dari sifat halus dan kasar. Tata krama jawa mengatur semua hubungan mencakup antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan manusia yang lainnya. Etika antara orang muda kepada orang tua memiliki etika tersendiri, berbeda dengan etika yang ada antar orang yang sebaya atau antara orang yang lebih tua ke orang yang lebih muda. Dengan pengelompokan ini membuat manusia Jawa diharuskan berbicara dan berperilaku dengan melihat posisi, peran serta kedudukan dirinya di hadapan orang lain.

Tata krama ini juga diwujudkan dalam gerakan dan bahasa tubuh merupakan isyarat yang dipahami secara universal. Dengan melihat dari kejauhan saja kita bisa tahu posisi seseorang terhadap orang lainnya dari gesture atau gerak badannya cara berbicaranya. Tata krama yang menonjol dalam keluarga Jawa adalah adanya perbedaan dalam percakapan sehari-hari dengan keragaman bahasa yang digunakan.

Kosa kata bahasa Jawa dibagi menjadi 3, yaitu Krama inggil, krama, dan ngoko. Sedangkan Bahasa Jawa itu sendiri dibagi menjadi 4. Yaitu bahasa Jawa Krama Alus, Krama, ngoko Alus dan ngoko lugu. Yang membedakan adalah kosakata yang terkandung didalam kalimat yang akan diucapkan atau ditulis.

Kata krama inggil atau tembung krama inggil adalah kosakata bahasa Jawa yang digunakan untuk menghormati seseorang dengan cara memuliakan orang tersebut. Arti dari kata inggil adalah tinggi atau mulia. Kata krama inggil hanya digunakan dalam bahasa ngoko alus dan krama alus. Contoh kosakata krama inggih adalah tindak, dhahar, sare dll. Kosakata kosakata tersebut hanya digunakan untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri. Contoh dalam kalimat antara lain: “kula dereng dhahar” padahal dhahar hanya bisa digunakan untuk memuliakan orang lain, bukan untuk membahasakan diri sendiri.

Kata krama atau tembung krama adalah kosakata bahasa Jawa yang hanya digunakan dalam bahasa krama. kata krama juga sering dikira sama saja dengan kata krama inggil. Sehingga, di beberapa daerah lazim ditemukan orang yang menggunakan kata krama inggil untuk dirinya sendiri, yang seharusnya digunakan untuk menghormati/memuliakan orang yang diajak bicara atau orang yang dibicarakan.

Kata ngoko atau tembung ngoko adalah kosakata bahasa Jawa yang dipakai dalam bahasa ngoko dan sebagai dasar kata-kata dalam bahasa Jawa. Artinya, semua kata dalam bahasa Jawa memiliki padanannya dalam kata ngoko. Beberapa kata ngoko mempunyai padanan dalam kata krama. Kata ngoko yang tidak memiliki padanan kata krama disebut sebagai kata krama-ngoko dan bisa dipakai dalam bahasa krama.

Krama Alus adalah bahasa yang digunakan untuk menghormati seseorang yang diajak bicara, termasuk juga di dalamnya dari tingkah laku, cara duduk, raut muka, pandangan, dan lain sebagainya. Umumnya tata krama Jawa diajarkan sejak kecil sehingga dapat menjadi sebuah kebiasaan yang tidak akan dilupakan sampai seseorang tua. Tentu saja dalam penggunaannya, tata krama Jawa sangat fleksibel mengikuti keadaan yang ada pada saat seseorang berada di suatu tempat dan kondisi.

Krama lugu adalah bahasa krama yang semua kata-kata, awalan, dan akhirannya berbentuk krama. . Di bawah ini adalah contoh penulisan dalam krama lugu. Mangké sonten, manawi siyos, kula badhé késah dhateng Surabaya.

Ngoko Alus adalah bentuk unggah-ungguh yang di dalamnya bukan hanya terdiri atas kosakata ngoko dan netral saja, melainkan juga terdiri atas kosakata krama inggil.

Ngoko lugu adalah bentuk unggah-ungguh bahasa Jawa yang semua kosakatanya berbentuk ngoko dan netral (kosakata ngoko dan netral) tanpa terselip kosakata krama maupun krama inggil.

Namun sayangnya tata krama Jawa ini mulai luntur dan tidak lagi diajarkan dengan baik kepada generasi muda. Generasi muda yang mengaku orang jawa sudah jarang yang mengerti mengenai hakekat dan makna tata krama Jawa. Orang Jawa yang lahir di luar komunitas Jawa, misalnya di Jakarta atau di luar pulau bahkan hampir tidak bisa berbahasa Jawa.  Bahkan generasi muda Jawa sendiri yang menerapkan bahasa Ibu pada anaknya tidak menggunakan bahasa Jawa melainkan menggunakan bahasa Indonesia bahkan bahasa Inggris. Semua itu menyebabkan generasi berikutnya sama sekali tidak memahami bahasa Jawa terutama bahasa Jawa krama. Karena kenyataanya dalam pembelajaran bahasa Jawa di Sekolah sangat tidak maksimal dibandingkan jika sudah diajarkan sejak kecil.  Padahal esensi tata krama Jawa itu ada pada bahasanya. Olah gerak tubuh yang baik, sikap yang sopan tidak akan lengkap dan bermakna tanpa bahasa yang halus dan sopan. Oleh karena itu perlu adanya gerakan untuk kembali memahami hakekat tata krama dan budaya Jawa sebagai sebuah jati diri, bukan hanya sebagai peninggalan nenek moyang yang perlu dilestarikan.

Komentari Tulisan Ini